Postingan

Menampilkan postingan dengan label cerpen

Masa Biru Fajar

Di Suatu Satu Waktu Hening di tepi sungai pagi hari. Burung-burung bernyanyi menyandingkan suara dengan gemerisik air. Palumat ranting pepohonan mengucapkan wangi dedaunan hijau pada udara. Pria itu di atas batu. Sedang mengamati lekuk arus air. Sedang berusaha menyembuhkan jiwa laranya dengan menerjunkan diri ke dalam rangkulan alam. Jauh dari polusi dan gerutu suara kendaraan. Sementara itu... Di Kota.... Banyak intel awam menyebar dan mencoba berkamuflase sebisa mereka. Ada yang sering datang ke tempat duduk di pinggir jalan itu dengan sembari menaruh HP di telinganya dan berbicara entah dengan siapa. Ada yang sering menahan rasa pusing kepala karena harus memakai kacamata berlensa itu sambil berjalan pelan dan membaca buku dengan tertunduk tanpa sadar covernya terbalik. Ada yang libur mengunjungi tempat laundry demi menabung bau keringat pada pakaian-pakaiannya yang membuatnya dapat terlihat sedikit gila. Ada sering mengunjungi kafe tempat kerja seorang wanita yang pernah sangat di...

Misteri Kecil Asmara

Ikan Mas Serigala Duduk di dekat kolam malam hari. Sedang mengamati sinar bulan di kolam. Ikan-ikan mas seperti serigala yang megap-megap menerobos batas atas air demi berharap mengecup bulan. Pria yang malas mandi itu sedang asyik menebak nama-nama band yang sedang tampil di halaman sebelah. Pop..pop.. Suara megap seekor ikan mas yang baru saja menangkap kembang pucat bougenvile yang diterbangkan angin malam. Sementara itu mengema sebuah suara merdu milik seorang wanita entah siapa. "Ahh..." spontan pria itu bersuara dengan ekspresi wajah penasaran. Di datanginya lokasi konser itu dengan ekspresi kekaguman paling jujur diantara anak-anak muda yang tampak santai mendengar suara indah itu. "Ahh... Pok..pok..pok.." suara mulut dan tepukan tangannya dan sambil tersenyum lebar usai lagu itu selesai dinyanyikan wanita itu. Akhirnya tanpa sadar pria itu telah berhasil menerobos rasa malunya yang luar biasa karena biasanya ia jarang terlihat dikeramaian. Akhirnya juga ia d...

Jalan-Jalan Setapak

Siang sepi pada pelukan matahari. Udara dan debu bermain-menari di halaman. Para tukang becak mengantuk di pinggir jalan, sesekali dikagetkan suara motor yang melintas. Hari minggu itu membangun pria berdahi mengkilap pada pukul 11:00. Di pelataran kios itu akhirnya ia melamun lagi setelah selesai mandi. Dipajangya tatapan kosong pada wajahnya sembari mengepulkan asap rokok perlahan-lahan ke angkasa lewat depan mukaya. Rupanya ia tengah memanggang kenangan kelam beberapa hari lalu yang melekat erat tak lepas dari ingataannya telah lima hari itu. Sebelah tangannya memutar-memaikan sebuah handphone nokia senter. Bruummm… bbrruummmm…. ( suara Kawasaki dari ujung lorong mendekat ) para tukang becak kaget lagi. Ada yang langsung melompat sambil meneriakkan makian. Motor itu berhenti di kios tempat lelaki kesiangan itu duduk melamun. Seorang pria berjaket hitam turun dari motor lalu mengecup kening seorang wanita cantik yang tetap di atas motor. “Selamat siang bro. bagaimana kabarmu sekarang...

Prosa : Pintu Sajak

18 Juni 2020 Pintu Sajak Di luar banyak polusi : debu-debu tak terlihat yang meracuni udara, kata-kata api yang membakar isi dada, isyarat-isyarat suara yang membuatku bertanya dan menelaah arti kata gila dan normal. Pikirku, mesti ku padamkan gema kata-kata yang api agar tak ikut terbakar. Harus ku erami isyarat suara-suara yang ambigu agar tak merasa bingung. Tapi, kepada apa ? : dengan apa ? dan kemana ? Untaian pertanyaan ini disahutkan keheningan panjang. Keheningan panjang yang berbicara kepada rasa sadarku dengan mengatakan : “akulah jawabannya.” Ku rasakan ada pintu sajak pada keheningan. Keheningan mengisahkan bahwa isinya adalah keheningan itu sendiri yang berperan sebagai udara yang memeluk semesta kata. Di angkasanya adalah langit warna-warni yang menampakkan berkas-berkas ingatan akan kenyataan-kenyataan sebagai bahan penghayatan.

Puisi : Neraka Dan Surgaku

17 Juni 2020 Neraka Dan Surgaku Aku adalah neraka bagi diriku sendiri Ku simpan surga bagi cinta sejati Jangan merenggut nerakaku untuk menerangi hitammu jika sendiri sering dalam ucapanmu mengikutkan namaku dengan cacian dan fitnah-fitnah kejam Dan surga di atas bumi hanyalah sebuah nuansa perasaan yang tak bisa habis karena ia benar yang sejati Dan aku pun hanya bisa mencintai gadis yang mampu memadamkan nerakaku

Prosa : Jalan Baru

16 Juni 2020 Jalan Baru Ku halau kantuk dan turun ke jalan saat fajar. Turun ke jalan menjalani kehidupan yang baru. Jalan ini pun jalan yang baru. Jalan Aksara namanya. Kemarin aku di Jalan Kata-Kata. Begitu melelahkannya rasa jiwaku menjalankan hidup di jalan itu. Aku tak hanya menulis tapi juga bersuara : mengucap dan memanggil-manggil nama-nama, berteriak, tertawa, bernyanyi, sampai memarahi diri sendiri. Tapi hal yang mengusirku dari jalan itu adalah karena aku coba menafsirkan perasaan Tuhan dengan menghayati musim-musim kehidupan. Karena hal ini aku di sangka gila bahkan dicap sesat meski sedikit juga yang menghargai kata-kataku. Senja kemarin aku terusir dari jalan itu. Tadi malam aku tak mau tidur karena tak ingin bermimpi tentang apapun lagi. Aku berjaga sepanjang malam karena memilih mempercayai logikaku dalam menghayati jalan-jalan kehidupan. Dan ku pilih jalan ini. Jalan Aksara. Agak berbeda dengan Jalan Kata-Kata dan tak terlalu membuat jiwa letih. Sebab aku ...

Sajak : Gerangan Api

16 Juni 2020 Gerangan Api Gerangan yang menyumbat aliran kata-kata ini adalah lidah-lidah api yang menumbangkan pohon dekat tebing tempat kata-kataku mesti terjun jatuh memecahkan misteri pada seonggok batu itu. Gerangan yang menyumbat kata-kata ini adalah lidah-lidah api yang melaporkan kata-kataku ke angkasa setelah menjelmakannya menjadi uap-uap. Aku hanya tak tahu kata-kata apa yang dikesumati lidah-lidah api itu. Maka aku akan Cuma pasrah pada hujan nanti yang membiakkan suara dan kata-kataku yang telah bercampur dengan perasaan langit. Dan aku telah merasa benci untuk menebak-nebak rasa air hujan.

Prosa : Titik Diam

16 Juni 2020 Titik Diam Kapan adalah kata tanya yang telah lama membingkai khayalan akan dirimu yang selalu diam dan terus bersikap aneh. Meski sudah ku katakan berkali-kali aku mencintaimu, tapi kau… kau… sikapmu membuatku bingung. Sudah berkali-kali juga ku katakan bahwa aku tak pandai membaca isyarat-isyarat, tapi… tapi… ah… ya sudahlah. Ku anggap kau tak mencintaiku. Tapi sepertinya kau mencintaiku. Ah akhirya aku membenci kata “tapi” yang senang menyalib jiwaku. Apakah karena perbedaan kita. Aku pemuda desa dan kau gadis kota. akhir-akhir ini aku berpikir bahwa alasan dari mengapa kau belum mengatakan perasaanmu atau menjawab pertanyaanku adalah mungkin karena kau sedang menunggu lampu hijau : tanda yang mempersilakan. Seperti yang kau temui di jalan-jalan kotamu. Tetapi siapa yang telah memberimu peraturan dalam hal cinta yang begitu buruk ini ? Karena aku tak melihat ada yang menangkapku setelah sudah berkali-kali menerobos lampu merah demi mengucapkan kata cinta k...