Postingan

Menampilkan postingan dengan label Puisi

Puisi Batu

Puisi batu menggenggam tanaman kecil yang diantara lumut-lumut Dan ada yang tersadar, Telah lama begitu lama sajak-sajak itu terlantar di segala musim.

Bulan Biru

Bulan biru di telaga sunyi Sinar putih di angkasa Langit biru di telaga Malam menyediakan sunyi 'Waktu' mengerami pepohonan Bayangan membaca titik-titik debu Bayangan membaca titik-titik debu yang terbang ke bulan biru tengah telaga

Sajak-Sajak Kelabu

23 Juni 2020 Sajak-Sajak Kelabu Sajak-sajak setelah mendung itu tiba adalah citra kelabu Tentang udara dingin yang hanya mendengar nama-nama asing Dan tentang bayangan palsu yang gemar mencemarkan kisah hidup Sajak-sajak yang setelah mendung itu tiba adalah untaian citra kelabu Yang menymbunyikan matahari terhadap jalan-jalan mimpi Tak ada perihal keindahan pada sajak-sajak setelah mendung itu tiba Namun dalam kaca mata lain, keindahan mungkin tersirat dalam keabua-abuan itu Keindahan yang tidak tentang romansa, reuni para sahabat, dan atau cinta pada pandangan pertama dan yang kesekian kalinya Meskipun sajak-sajak ini bukanah surat-surat pribadi kepada matamu, tapi kau mungkin akan sedikit bertambah dewasa setelah membaca potret-potret kelabu itu

Melarang Sajak

Tidak bergetar sajak memerihkan waktu Tidak mendesak sajak di udara berdebu Yang membariskan abjab-abjad itu Adalah pengingat baik pemandangan gurun          22 Juni 2020

Abstraksi Warna

Ada yang tertidur di bawah pohon Tiada mimpi tertulis di hembusan napas Raib dari hasrat api para pelintas ruang Ada yang tertidur di bawah pohon mengacuhkan terik surya                 22 Juni 2020

Sajak : Dari Awal Kepada Akhir

Daun jatuh mengingat bumi Melapuk menjadi tanah Ada yang baru kembali dari jalan-jalan jauh Berteduh di bawah pohon

Puisi : Gerangan Dan Embun Sore Hari

meraba kata pada api sedang udara berkhianat dan entahlah gerangan hingga matahari menutup diri, ijinkan kesadaran berduka memberlalukan bahagia yang gamang menerka lukisan fatamorgana ada yang merekah di angkasa daun kelabu yang memayungi hendak melepaskan titik-titik embun untukmu pelangi setelah ini, hayatilah nantinya 21 Juni 2020

Puisi : Menyapa Omega

21 Juni 2020 Oh angkasa . . . ucapkanlah misteri tentang waktu dan sadar yang tak pernah berhenti memercikkan perasaan nestapa Mestinya badai telah berlalu ? Oh angkasa . . . Bila roda hidup akan selalu mempertemukan manusia dengan duka yang sama, di malam ketika langitmu merasa tergelitik udara biru, rengkuhlah aroma napas itu, milik insan debu, berisi doa-doa omega dan kalam senja hari

Kepada Mata Hatimu

15 Februari 2020 Kepada mata hatimu : Kasih . . . . Jika sudah tak mampu memberimu cahaya, Masih bisa ku rampas rasa sakitmu ketika engkau kehabisan air mata, dengan menjadi kata-kata pada nuranimu, sebagai pengingatmu akan harum udara pagi Maka menangislah . . . . dan jangan pernah menolak kesedihan. Tentang kau dan aku pada kisah ini : Kita hanya butuh untuk saling mencuci mata hati Kita butuh membasuh jiwa, dengan air mata dan kesedihan-kesedihan paling jujur

Bahasa Air Mata

Diantara gelap Yang jauh adalah kebahagiaan Yang dekat adalah kedamaian Yang dekat ada pada sepi Memeluk yang dekat ke dalam sepi Membingkai ruang dengan keheningan Kepada waktu dan keadaan, sepi yang ku minta Mohon biarkan aku terhapus dari berjuta ingatan

Sajak : Atom

Atom Dengan bertolak dari sajak demi sajak akhirnya dapat manepi Meninggalkan birunya lautan Benar-benar di bibir pantai Menghitung buih-buih yang menampar pasir Mungkin batas bumi adalah pertanyaan yang sulit bagi kaki tapi batas ini dapat dijelaskan dengan pernyataan yang sama dengan arti batas bumi batas di mana 'aku' tak dapat kau temukan lagi dalam sajak-sajak yang tak lagi pemali

Sajak : Penulis Pada Penjara

Penulis Pada Penjara Ku punya hanya kata yang ku sandarkan pada kertas-kertas putih Hendak ku capai puisi demi puisi Ku punya hanya kata yang mengenal banyak isi renungan Hendak ku capai puisi demi puisi Ku punya hanya kata kepada kertas-kertas putih demi memberlalukan malam Hendak ku capai puisi demi puisi Ingin terbiarkan menerbitkan matahari kata

Sajak : Penulis Yang "Sakit Pertanyaan"

Penulis Yang “Sakit Pertanyaan” Aku menulis kata-kata yang menggapai sajak-sajak sederhana Kata dan sajak sederhana pada rumah sakit atau kamar sakit Aku hanya menulis kata-kata yang berusaha menggapai sajak-sajak sederhana, pada rumah dan kamar sakit ini Maka kau sedang tak boleh menawari pekerjaan lain Aku masih sibuk menceritakan rasa sakitku kepada dokter yang bernama kertas putih tentang segala pertanyaan yang melekat di ragaku Aku masih berusaha untuk pulih dan sadar

Puisi : Partikel Suara

Partikel Suara Kiranya hamba ada sebagai satu di antara makhluk yang bernapas Kiranya kita sama merjemah udara Kiranya kita di bawah langit yang satu Ijinkanlah waktu yang memintal sadarku perlahan ke angkasa Sedang ku rapikan kalam pada raga Sekali hidupku ini, biarkan kita sama menghayati detak-detak detik

Puisi : Elang Puisi

Elang Puisi Puisi-puisi ini adalah lembar-lembar purnama Kata-kata yang bersinar bagai lukisan yang terus mengucapkan kerinduan tentang janji matahari baru Puisi-puisi ini seumpama bayang-bayang yang diterka dari balik fatamorgana Puisi-puisi ini adalah detak-detak waktu yang menghitung titik-titik debu sebelum menemui bukit

Sajak : Pertanyaanku

18 Juni 2020 Pertanyaanku Kalau diam adalah pertanyaan bagi orang lain yang memerhatikan, aku tidak berani menyangka bahwa kau memiliki jawaban atas pertanyaanku Kalau ketidakacuhan adalah misteri bagi orang lain yang mengamati, aku tidak berani yakin bahwa kau pernah menyimpanku berjam-jam dalam ingatanmu

Prosa : Pintu Sajak

18 Juni 2020 Pintu Sajak Di luar banyak polusi : debu-debu tak terlihat yang meracuni udara, kata-kata api yang membakar isi dada, isyarat-isyarat suara yang membuatku bertanya dan menelaah arti kata gila dan normal. Pikirku, mesti ku padamkan gema kata-kata yang api agar tak ikut terbakar. Harus ku erami isyarat suara-suara yang ambigu agar tak merasa bingung. Tapi, kepada apa ? : dengan apa ? dan kemana ? Untaian pertanyaan ini disahutkan keheningan panjang. Keheningan panjang yang berbicara kepada rasa sadarku dengan mengatakan : “akulah jawabannya.” Ku rasakan ada pintu sajak pada keheningan. Keheningan mengisahkan bahwa isinya adalah keheningan itu sendiri yang berperan sebagai udara yang memeluk semesta kata. Di angkasanya adalah langit warna-warni yang menampakkan berkas-berkas ingatan akan kenyataan-kenyataan sebagai bahan penghayatan.

Kiasan Tentang Menjadi Tiada

17 Juni 2020 Kiasan Tentang Menjadi Tiada alangkah misterinya waktu bagai kita menebak teduhnya cuaca adalah masih pagi ku pikir . . . alangkah baiknya jika langit tak terlambat untuk berhenti berduka atas masa lalu yang tengah di kubur sisa-sisa hujan karena . . . alangkah damainya bila senja berkenan menyaksikan kita berjalan pulang ke rumah

Surat Kepada Cinta

17 Juni 2020 Surat Kepada Cinta Di setiap senja hendak menjelangkan malam, kau adalah lampu sinar kuning yang menemaniku minum kopi Dengarlah . . . Nanti jika aku kembali untuk menatapmu, Jangan lagi menjadi rembulan yang membuatku mencemburui para bintang

Sajak : Tak Ku Cari Surga

17 Juni 2020 Tak Ku Cari Surga Jika nanti menemukanmu oh gerangan, yang memadamkan neraka di jiwaku, Akan untukmu surga ini Surga ini adalah perasaan sayang yang abadi dan mas kawin paling murni, di mata Tuhan dan di mata jiwa. Dan . . . Jika pada 'nanti'ku yang paling terakhir/waktuku yang paling penghabisan tiba, Takkan ku cari surga di sana. Aku ingin menjadi udara. Jika neraka di sana menangkap dan membakarku, aku pun bisa tetap melayang datang, sebagai udara Sebagai udara yang menjaga napas anak cucu kita