Postingan

Menampilkan postingan dengan label new normal

Sajak : Atom

Atom Dengan bertolak dari sajak demi sajak akhirnya dapat manepi Meninggalkan birunya lautan Benar-benar di bibir pantai Menghitung buih-buih yang menampar pasir Mungkin batas bumi adalah pertanyaan yang sulit bagi kaki tapi batas ini dapat dijelaskan dengan pernyataan yang sama dengan arti batas bumi batas di mana 'aku' tak dapat kau temukan lagi dalam sajak-sajak yang tak lagi pemali

Surat Kepada Cinta

17 Juni 2020 Surat Kepada Cinta Di setiap senja hendak menjelangkan malam, kau adalah lampu sinar kuning yang menemaniku minum kopi Dengarlah . . . Nanti jika aku kembali untuk menatapmu, Jangan lagi menjadi rembulan yang membuatku mencemburui para bintang

Prosa : Jalan Baru

16 Juni 2020 Jalan Baru Ku halau kantuk dan turun ke jalan saat fajar. Turun ke jalan menjalani kehidupan yang baru. Jalan ini pun jalan yang baru. Jalan Aksara namanya. Kemarin aku di Jalan Kata-Kata. Begitu melelahkannya rasa jiwaku menjalankan hidup di jalan itu. Aku tak hanya menulis tapi juga bersuara : mengucap dan memanggil-manggil nama-nama, berteriak, tertawa, bernyanyi, sampai memarahi diri sendiri. Tapi hal yang mengusirku dari jalan itu adalah karena aku coba menafsirkan perasaan Tuhan dengan menghayati musim-musim kehidupan. Karena hal ini aku di sangka gila bahkan dicap sesat meski sedikit juga yang menghargai kata-kataku. Senja kemarin aku terusir dari jalan itu. Tadi malam aku tak mau tidur karena tak ingin bermimpi tentang apapun lagi. Aku berjaga sepanjang malam karena memilih mempercayai logikaku dalam menghayati jalan-jalan kehidupan. Dan ku pilih jalan ini. Jalan Aksara. Agak berbeda dengan Jalan Kata-Kata dan tak terlalu membuat jiwa letih. Sebab aku ...

Sajak : Gerangan Api

16 Juni 2020 Gerangan Api Gerangan yang menyumbat aliran kata-kata ini adalah lidah-lidah api yang menumbangkan pohon dekat tebing tempat kata-kataku mesti terjun jatuh memecahkan misteri pada seonggok batu itu. Gerangan yang menyumbat kata-kata ini adalah lidah-lidah api yang melaporkan kata-kataku ke angkasa setelah menjelmakannya menjadi uap-uap. Aku hanya tak tahu kata-kata apa yang dikesumati lidah-lidah api itu. Maka aku akan Cuma pasrah pada hujan nanti yang membiakkan suara dan kata-kataku yang telah bercampur dengan perasaan langit. Dan aku telah merasa benci untuk menebak-nebak rasa air hujan.