Prosa : Titik Diam

16 Juni 2020
Titik Diam

Kapan adalah kata tanya yang telah lama membingkai khayalan akan dirimu yang selalu diam dan terus bersikap aneh. Meski sudah ku katakan berkali-kali aku mencintaimu, tapi kau… kau… sikapmu membuatku bingung. Sudah berkali-kali juga ku katakan bahwa aku tak pandai membaca isyarat-isyarat, tapi… tapi… ah… ya sudahlah. Ku anggap kau tak mencintaiku. Tapi sepertinya kau mencintaiku.
Ah akhirya aku membenci kata “tapi” yang senang menyalib jiwaku.
Apakah karena perbedaan kita. Aku pemuda desa dan kau gadis kota.
akhir-akhir ini aku berpikir bahwa alasan dari mengapa kau belum mengatakan perasaanmu atau menjawab pertanyaanku adalah mungkin karena kau sedang menunggu lampu hijau : tanda yang mempersilakan. Seperti yang kau temui di jalan-jalan kotamu.
Tetapi siapa yang telah memberimu peraturan dalam hal cinta yang begitu buruk ini ?
Karena aku tak melihat ada yang menangkapku setelah sudah berkali-kali menerobos lampu merah demi mengucapkan kata cinta kepadamu. Dan juga, jalanan ini tidak ramai. Hanya ada kau dan aku. Tapi jelas ku lihat jalanmu terhubung dengan jalan-jalan lain. Sementara jalanku hanya menemui jalanmu semata.
Ku tebak lagi, mungkin kau sedang menyimpan suara dan kata-katamu untuk pemuda yang datang dari arah lain. Atau, biar ku tebak lagi. Barangkali kau sedang berubah menjadi patung di bundaran pada jalan ini.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Prosa : Jalan Baru

Misteri Kecil Asmara