Prosa : Jalan Baru
16 Juni 2020
Jalan Baru
Ku halau kantuk dan turun ke jalan saat fajar. Turun ke jalan menjalani kehidupan yang baru. Jalan ini pun jalan yang baru. Jalan Aksara namanya.
Kemarin aku di Jalan Kata-Kata. Begitu melelahkannya rasa jiwaku menjalankan hidup di jalan itu. Aku tak hanya menulis tapi juga bersuara : mengucap dan memanggil-manggil nama-nama, berteriak, tertawa, bernyanyi, sampai memarahi diri sendiri. Tapi hal yang mengusirku dari jalan itu adalah karena aku coba menafsirkan perasaan Tuhan dengan menghayati musim-musim kehidupan. Karena hal ini aku di sangka gila bahkan dicap sesat meski sedikit juga yang menghargai kata-kataku.
Senja kemarin aku terusir dari jalan itu. Tadi malam aku tak mau tidur karena tak ingin bermimpi tentang apapun lagi. Aku berjaga sepanjang malam karena memilih mempercayai logikaku dalam menghayati jalan-jalan kehidupan. Dan ku pilih jalan ini. Jalan Aksara. Agak berbeda dengan Jalan Kata-Kata dan tak terlalu membuat jiwa letih. Sebab aku tak perlu lelah bersuara. Aku hanya butuh menulis : menulis kalimat yang menjelaskan arti-arti nama dan kata, menulis sebab-sebab yang mengakibatkan aku berteriak, tertawa, bernyannyi, dan memarahi diri sendiri.
Berada pada jalan ini dan hanya menulis, aku yakin tak akan terusir lagi. Pikirku sebab mungkin taka da yang mau menggangu seseorang yang diam-diam sibuk menulis.
Ku turun ke jalan ini pagi-pagi, sesaat sebelum adzan berkumandang. Ku tulis di wajahku paragraf-paragraf yang mendeskripsikan harumnya fajar yang menenteramkan senyuman. Tapi mungkin terlalu pagi aku ke sini, karena belum ada yang datang dan menyapaku lalu menanyakan dari jalan mana aku bertolak ke jalan ini. Mungkin masih banyak yang sedang asyik bermimpi dan ada sedikit yang sudah bangun dan langsung sibuk di dapur.
Yang ku jumpai di pagi yang masih buta ini adalah orang-orang berkerudung dan bertopi yang tampaknya buru-buru ingin segera menjumpai Jalan Kata-Kata. Ku tebak lelaki setengah tua yang berkacamata dan berjanggut panjang itu adalah orang yang sering menafsirkan perasaan Tuhan dengan menghayati musim-musim kehidupan.
Komentar
Posting Komentar