Masa Biru Fajar


Di Suatu Satu Waktu

Hening di tepi sungai pagi hari. Burung-burung bernyanyi menyandingkan suara dengan gemerisik air. Palumat ranting pepohonan mengucapkan wangi dedaunan hijau pada udara.
Pria itu di atas batu. Sedang mengamati lekuk arus air. Sedang berusaha menyembuhkan jiwa laranya dengan menerjunkan diri ke dalam rangkulan alam. Jauh dari polusi dan gerutu suara kendaraan.

Sementara itu...
Di Kota....

Banyak intel awam menyebar dan mencoba berkamuflase sebisa mereka.
Ada yang sering datang ke tempat duduk di pinggir jalan itu dengan sembari menaruh HP di telinganya dan berbicara entah dengan siapa.
Ada yang sering menahan rasa pusing kepala karena harus memakai kacamata berlensa itu sambil berjalan pelan dan membaca buku dengan tertunduk tanpa sadar covernya terbalik.
Ada yang libur mengunjungi tempat laundry demi menabung bau keringat pada pakaian-pakaiannya yang membuatnya dapat terlihat sedikit gila.
Ada sering mengunjungi kafe tempat kerja seorang wanita yang pernah sangat dicintai pria yang tengah berada dalam rangkulan alam itu.
Sering juga beberapa intel awam bertemu pada tempat dan waktu yang sama tanpa saling menyadari sandiwara di antara mereka.

Sementara itu....
Di lingkup lembaga itu....

Para mahasiswa murni berkacamata dan berpakaian rapi sibuk mengadakan pertemuan dan kegiatan-kegiatan. Banyak menulis surat-surat resmi dan sering menabungkan argumentasi di kotak Kritik dan Saran.
Para mahasiswa murni berkacamata dan berpakaian rapi sibuk mengadakan pertemuan dan kegiatan-kegiatan. Banyak menulis surat-surat resmi dan sering menabungkan argumentasi di kotak Kritik dan Saran.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Prosa : Jalan Baru

Misteri Kecil Asmara