Postingan

Menampilkan postingan dari Juli, 2020

Sajak : Reda Bulan Juli

Catatan : sajak ini dibuat dengan rasa segenap rasa dukaku hari ini atas keberpulangan Beliau. Bukan ku rayakan rasa duka ini, tapi aku ingin dunia tau bahwa aku berduka atas kepergian Bapak Sapardi. Aku berduka dalam sajak ini. Untuk idolaku Pak Sapardi Djoko Hujan bulan juni mencipta reda bulan juli. Dan kau pelangi, raib dengan lembut dalam panggilan cahaya. Rindang sajakmu pada lara yang memayungi asa Kalimat-kalimat kami masihlah udara panas yang rindu menemui mata hatimu, Atau senang sekedar berandai kau memahami wangi sajak-sajak siang. Tapi reda bulan juli mengheningkan segala cipta, merenungkan segala kata. Dan dikau ku yakini ada dalam hening di antara butir cahaya angkasa itu. Ku sebut itu surga di depan lilin hati.

Sajak : Di Ruang Kata

Sunyi itu hendak menggapai suara Tapi penulis itu seorang pembenci suara Sunyi itu hendak menggapai kata Tapi tinta penanya habis setelah menempuh jalan-jalan jauh Rupanya itu hanya peristiwa kecil tentang sang penulis yang berhasil pensiun di ujung penanya sendiri

Sajak : Dalam Sinar Surya

Dua masa berlalu : Hujan yang menghening menjadi reda Reda yang membuka cahaya di langit Dan pelangi berlalu terhapus waktu

Sajak : Tentang Pelangi

Diantara hujan dan cerah, Pada reda, Pelangi mekar di ujung tanduk memanggil bidadari Sayap dan selendang udara pada bidadari Para penopang tanduk medoakan mendung Bidadari yang tak tiba, menyulam matahari Pelangi raib ditatap cahaya

Sajak : Terbias Pelangi

Pemimpi itu berbicara dengan nada puisi Pengamen itu terus memainkan gitarnya di atas batu ujung ombak Pelukis itu tersenyum pada reranting pepohonan rindang yang bergoyang Penari itu berpikir keras terhadap aturan-aturan Pria itu sibuk menebak titik tumpu pelangi itu

Sajak : Setitik Embun

Embun itu terpeleset dari daun talas Berbaur dalam aliran sungai menuju samudera Sahajanya lautan hanya biru dan putih buih Semuanya sama Embun itu menjadi entah di sana Embun itu menjadi tanda tanya

Sajak : Ku Ingin Kau Berarti Untukku

Apakah kau membaca namaku ? Dalam surat bernada jujur yang kau sebut romantis itu. Apakah kau sempat menghayati kata-kata itu ? Dalam bait-bait yang sejatinya hanya mengulang sebuah rasa saja. Apakah kau ? Membaca dan menghayatinya ? Sesungguhnya aku hanya ingin memperkenalkan diriku seutuhnya padamu semata.

Sajak : Dari Sanubari Cakrawala Terjauh

Di terbangkan angin kehadapanku  Kembang bougenville lusuh nan dekil. Kemarin malam, hujan turun di halaman itu hendak menghentikan laju angin yang menggenggam kembang ini Tak ada yang mampu menahan angin Dan Kembang ini, surat dari kejauhan. Berisi rasa rindu dan sebuah harapan

Romantika Anak Khatulistiwa

Cinta sepasang kekasih yang disebutnya ayah dan ibu. Dan ia ada. Dan tumbuh dewasa. Berjalan diantara ruas bendera merah-putih. Di mintanya hanya waktu. Biar merah-putih membentang kian lebar manghalau debu-debu dari warna-warni asing yang gamang sebagai pelangi dunia. Ia, bukan merah ataupun putih. Ia, hanya seutas benang yang hidup ditangan ibu Fatmawati. Merah yang memudar menjadi merah muda, warna asmara kerap dekat merayu. Tapi ia hidup ditangan ibu Fatmawati. Putih yang mengumal menjadi warna sore dan pagi. Mendetakkan saat tiba dan berlalunya malam. Di waktu siang, cinta baginya masih jauh didepan. Jejak benang itu menari, meliuk-liuk dijalan, lukisan tangan ibu Fatmawati. Berikan ia waktu, berikan saja waktu baginya membentangkan sakanya merah-putih.

Sajak : Barangkali Semesta

Siapa yang mengeramatkan kata ? Hingga penulis itu, penanya berbaring disamping buku baru yang berdebu Siapa yang mengeramatkan kata ? Hingga oleh sebab pertanyaan ini Maka penulis itu, berhenti menjadi harimau Siapa yang mengilhami diam ? Barangkali semesta yang selalu ramai suara namun tak pernah mengenal ribut

Sajak : Debu Kepada Bulan

Bulan menipu matanya Dia yang : Mencintai bulan dengan perasaan yang membatu Maka cakrawala dicari pada tiap tepian pagi Sampai menemui batas bumi dan masuk menemui kehampaan tanpa batas

Masa Biru Fajar

Di Suatu Satu Waktu Hening di tepi sungai pagi hari. Burung-burung bernyanyi menyandingkan suara dengan gemerisik air. Palumat ranting pepohonan mengucapkan wangi dedaunan hijau pada udara. Pria itu di atas batu. Sedang mengamati lekuk arus air. Sedang berusaha menyembuhkan jiwa laranya dengan menerjunkan diri ke dalam rangkulan alam. Jauh dari polusi dan gerutu suara kendaraan. Sementara itu... Di Kota.... Banyak intel awam menyebar dan mencoba berkamuflase sebisa mereka. Ada yang sering datang ke tempat duduk di pinggir jalan itu dengan sembari menaruh HP di telinganya dan berbicara entah dengan siapa. Ada yang sering menahan rasa pusing kepala karena harus memakai kacamata berlensa itu sambil berjalan pelan dan membaca buku dengan tertunduk tanpa sadar covernya terbalik. Ada yang libur mengunjungi tempat laundry demi menabung bau keringat pada pakaian-pakaiannya yang membuatnya dapat terlihat sedikit gila. Ada sering mengunjungi kafe tempat kerja seorang wanita yang pernah sangat di...

Misteri Kecil Asmara

Ikan Mas Serigala Duduk di dekat kolam malam hari. Sedang mengamati sinar bulan di kolam. Ikan-ikan mas seperti serigala yang megap-megap menerobos batas atas air demi berharap mengecup bulan. Pria yang malas mandi itu sedang asyik menebak nama-nama band yang sedang tampil di halaman sebelah. Pop..pop.. Suara megap seekor ikan mas yang baru saja menangkap kembang pucat bougenvile yang diterbangkan angin malam. Sementara itu mengema sebuah suara merdu milik seorang wanita entah siapa. "Ahh..." spontan pria itu bersuara dengan ekspresi wajah penasaran. Di datanginya lokasi konser itu dengan ekspresi kekaguman paling jujur diantara anak-anak muda yang tampak santai mendengar suara indah itu. "Ahh... Pok..pok..pok.." suara mulut dan tepukan tangannya dan sambil tersenyum lebar usai lagu itu selesai dinyanyikan wanita itu. Akhirnya tanpa sadar pria itu telah berhasil menerobos rasa malunya yang luar biasa karena biasanya ia jarang terlihat dikeramaian. Akhirnya juga ia d...