Romantika Anak Khatulistiwa

Cinta sepasang kekasih yang disebutnya ayah dan ibu. Dan ia ada. Dan tumbuh dewasa.
Berjalan diantara ruas bendera merah-putih.
Di mintanya hanya waktu. Biar merah-putih membentang kian lebar manghalau debu-debu dari warna-warni asing yang gamang sebagai pelangi dunia.
Ia, bukan merah ataupun putih.
Ia, hanya seutas benang yang hidup ditangan ibu Fatmawati.

Merah yang memudar menjadi merah muda, warna asmara kerap dekat merayu. Tapi ia hidup ditangan ibu Fatmawati.
Putih yang mengumal menjadi warna sore dan pagi. Mendetakkan saat tiba dan berlalunya malam.
Di waktu siang, cinta baginya masih jauh didepan.

Jejak benang itu menari, meliuk-liuk dijalan, lukisan tangan ibu Fatmawati.
Berikan ia waktu, berikan saja waktu baginya membentangkan sakanya merah-putih.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Prosa : Jalan Baru

Misteri Kecil Asmara