Postingan

Menampilkan postingan dari Juni, 2020

Jalan-Jalan Setapak

Siang sepi pada pelukan matahari. Udara dan debu bermain-menari di halaman. Para tukang becak mengantuk di pinggir jalan, sesekali dikagetkan suara motor yang melintas. Hari minggu itu membangun pria berdahi mengkilap pada pukul 11:00. Di pelataran kios itu akhirnya ia melamun lagi setelah selesai mandi. Dipajangya tatapan kosong pada wajahnya sembari mengepulkan asap rokok perlahan-lahan ke angkasa lewat depan mukaya. Rupanya ia tengah memanggang kenangan kelam beberapa hari lalu yang melekat erat tak lepas dari ingataannya telah lima hari itu. Sebelah tangannya memutar-memaikan sebuah handphone nokia senter. Bruummm… bbrruummmm…. ( suara Kawasaki dari ujung lorong mendekat ) para tukang becak kaget lagi. Ada yang langsung melompat sambil meneriakkan makian. Motor itu berhenti di kios tempat lelaki kesiangan itu duduk melamun. Seorang pria berjaket hitam turun dari motor lalu mengecup kening seorang wanita cantik yang tetap di atas motor. “Selamat siang bro. bagaimana kabarmu sekarang...

Puisi Batu

Puisi batu menggenggam tanaman kecil yang diantara lumut-lumut Dan ada yang tersadar, Telah lama begitu lama sajak-sajak itu terlantar di segala musim.

Bulan Biru

Bulan biru di telaga sunyi Sinar putih di angkasa Langit biru di telaga Malam menyediakan sunyi 'Waktu' mengerami pepohonan Bayangan membaca titik-titik debu Bayangan membaca titik-titik debu yang terbang ke bulan biru tengah telaga

Sajak-Sajak Kelabu

23 Juni 2020 Sajak-Sajak Kelabu Sajak-sajak setelah mendung itu tiba adalah citra kelabu Tentang udara dingin yang hanya mendengar nama-nama asing Dan tentang bayangan palsu yang gemar mencemarkan kisah hidup Sajak-sajak yang setelah mendung itu tiba adalah untaian citra kelabu Yang menymbunyikan matahari terhadap jalan-jalan mimpi Tak ada perihal keindahan pada sajak-sajak setelah mendung itu tiba Namun dalam kaca mata lain, keindahan mungkin tersirat dalam keabua-abuan itu Keindahan yang tidak tentang romansa, reuni para sahabat, dan atau cinta pada pandangan pertama dan yang kesekian kalinya Meskipun sajak-sajak ini bukanah surat-surat pribadi kepada matamu, tapi kau mungkin akan sedikit bertambah dewasa setelah membaca potret-potret kelabu itu

Opini : Perihal Kemayaan

     Kemayaan tak pernah ingin disentuh oleh makhluk sosial. Kemayaan adalah hasil penciptaan imajinasi makhluk individu yang diterima oleh para makhluk sosial dalam keindividuan mereka masing-masing sebagai suatu inovasi yang baik untuk menghadapi masa-masa depan.       Dari pernyataan-pernyataan tersebut di atas, tersirat gambaran kelemahan dari makhluk sosial dalam menghadapi jaman. Makhluk sosial menjadi memudar citranya dalam kehidupan nyata sehari-hari juga disebabkan oleh pengaruh dasar ini. Akhirnya seiring berjalannya waktu, banyak penyimpangan dan hal-hal terkait sifat yang berakibat negatif dalam lingkup citra manusia sebagai makhluk sosial.      Di lihat dari segi etimologi maupun dari gambaran-gambaran di atas, dapat disimpulkan bahwa kemayaan adalah sesuatu yang tak mengikat dan tak terikat pada manusia. Kemayaan adalah sesuatu yang dapat dikunjungi dan ditinggalkan kapan saja oleh makhluk sosial yang sedang ingin menjadi makhlu...

Melarang Sajak

Tidak bergetar sajak memerihkan waktu Tidak mendesak sajak di udara berdebu Yang membariskan abjab-abjad itu Adalah pengingat baik pemandangan gurun          22 Juni 2020

Abstraksi Warna

Ada yang tertidur di bawah pohon Tiada mimpi tertulis di hembusan napas Raib dari hasrat api para pelintas ruang Ada yang tertidur di bawah pohon mengacuhkan terik surya                 22 Juni 2020

Sajak : Dari Awal Kepada Akhir

Daun jatuh mengingat bumi Melapuk menjadi tanah Ada yang baru kembali dari jalan-jalan jauh Berteduh di bawah pohon

Puisi : Gerangan Dan Embun Sore Hari

meraba kata pada api sedang udara berkhianat dan entahlah gerangan hingga matahari menutup diri, ijinkan kesadaran berduka memberlalukan bahagia yang gamang menerka lukisan fatamorgana ada yang merekah di angkasa daun kelabu yang memayungi hendak melepaskan titik-titik embun untukmu pelangi setelah ini, hayatilah nantinya 21 Juni 2020

Puisi : Menyapa Omega

21 Juni 2020 Oh angkasa . . . ucapkanlah misteri tentang waktu dan sadar yang tak pernah berhenti memercikkan perasaan nestapa Mestinya badai telah berlalu ? Oh angkasa . . . Bila roda hidup akan selalu mempertemukan manusia dengan duka yang sama, di malam ketika langitmu merasa tergelitik udara biru, rengkuhlah aroma napas itu, milik insan debu, berisi doa-doa omega dan kalam senja hari

Kepada Mata Hatimu

15 Februari 2020 Kepada mata hatimu : Kasih . . . . Jika sudah tak mampu memberimu cahaya, Masih bisa ku rampas rasa sakitmu ketika engkau kehabisan air mata, dengan menjadi kata-kata pada nuranimu, sebagai pengingatmu akan harum udara pagi Maka menangislah . . . . dan jangan pernah menolak kesedihan. Tentang kau dan aku pada kisah ini : Kita hanya butuh untuk saling mencuci mata hati Kita butuh membasuh jiwa, dengan air mata dan kesedihan-kesedihan paling jujur

Bahasa Air Mata

Diantara gelap Yang jauh adalah kebahagiaan Yang dekat adalah kedamaian Yang dekat ada pada sepi Memeluk yang dekat ke dalam sepi Membingkai ruang dengan keheningan Kepada waktu dan keadaan, sepi yang ku minta Mohon biarkan aku terhapus dari berjuta ingatan

Sajak : Atom

Atom Dengan bertolak dari sajak demi sajak akhirnya dapat manepi Meninggalkan birunya lautan Benar-benar di bibir pantai Menghitung buih-buih yang menampar pasir Mungkin batas bumi adalah pertanyaan yang sulit bagi kaki tapi batas ini dapat dijelaskan dengan pernyataan yang sama dengan arti batas bumi batas di mana 'aku' tak dapat kau temukan lagi dalam sajak-sajak yang tak lagi pemali

Sajak : Penulis Pada Penjara

Penulis Pada Penjara Ku punya hanya kata yang ku sandarkan pada kertas-kertas putih Hendak ku capai puisi demi puisi Ku punya hanya kata yang mengenal banyak isi renungan Hendak ku capai puisi demi puisi Ku punya hanya kata kepada kertas-kertas putih demi memberlalukan malam Hendak ku capai puisi demi puisi Ingin terbiarkan menerbitkan matahari kata

Sajak : Penulis Yang "Sakit Pertanyaan"

Penulis Yang “Sakit Pertanyaan” Aku menulis kata-kata yang menggapai sajak-sajak sederhana Kata dan sajak sederhana pada rumah sakit atau kamar sakit Aku hanya menulis kata-kata yang berusaha menggapai sajak-sajak sederhana, pada rumah dan kamar sakit ini Maka kau sedang tak boleh menawari pekerjaan lain Aku masih sibuk menceritakan rasa sakitku kepada dokter yang bernama kertas putih tentang segala pertanyaan yang melekat di ragaku Aku masih berusaha untuk pulih dan sadar

Puisi : Partikel Suara

Partikel Suara Kiranya hamba ada sebagai satu di antara makhluk yang bernapas Kiranya kita sama merjemah udara Kiranya kita di bawah langit yang satu Ijinkanlah waktu yang memintal sadarku perlahan ke angkasa Sedang ku rapikan kalam pada raga Sekali hidupku ini, biarkan kita sama menghayati detak-detak detik

Puisi : Elang Puisi

Elang Puisi Puisi-puisi ini adalah lembar-lembar purnama Kata-kata yang bersinar bagai lukisan yang terus mengucapkan kerinduan tentang janji matahari baru Puisi-puisi ini seumpama bayang-bayang yang diterka dari balik fatamorgana Puisi-puisi ini adalah detak-detak waktu yang menghitung titik-titik debu sebelum menemui bukit

Sajak : Pertanyaanku

18 Juni 2020 Pertanyaanku Kalau diam adalah pertanyaan bagi orang lain yang memerhatikan, aku tidak berani menyangka bahwa kau memiliki jawaban atas pertanyaanku Kalau ketidakacuhan adalah misteri bagi orang lain yang mengamati, aku tidak berani yakin bahwa kau pernah menyimpanku berjam-jam dalam ingatanmu

Prosa : Pintu Sajak

18 Juni 2020 Pintu Sajak Di luar banyak polusi : debu-debu tak terlihat yang meracuni udara, kata-kata api yang membakar isi dada, isyarat-isyarat suara yang membuatku bertanya dan menelaah arti kata gila dan normal. Pikirku, mesti ku padamkan gema kata-kata yang api agar tak ikut terbakar. Harus ku erami isyarat suara-suara yang ambigu agar tak merasa bingung. Tapi, kepada apa ? : dengan apa ? dan kemana ? Untaian pertanyaan ini disahutkan keheningan panjang. Keheningan panjang yang berbicara kepada rasa sadarku dengan mengatakan : “akulah jawabannya.” Ku rasakan ada pintu sajak pada keheningan. Keheningan mengisahkan bahwa isinya adalah keheningan itu sendiri yang berperan sebagai udara yang memeluk semesta kata. Di angkasanya adalah langit warna-warni yang menampakkan berkas-berkas ingatan akan kenyataan-kenyataan sebagai bahan penghayatan.

Kiasan Tentang Menjadi Tiada

17 Juni 2020 Kiasan Tentang Menjadi Tiada alangkah misterinya waktu bagai kita menebak teduhnya cuaca adalah masih pagi ku pikir . . . alangkah baiknya jika langit tak terlambat untuk berhenti berduka atas masa lalu yang tengah di kubur sisa-sisa hujan karena . . . alangkah damainya bila senja berkenan menyaksikan kita berjalan pulang ke rumah

Surat Kepada Cinta

Saya rasa Anda akan menyukai ide ini di Pinterest... https://pin.it/y61RlDB

Surat Kepada Cinta

17 Juni 2020 Surat Kepada Cinta Di setiap senja hendak menjelangkan malam, kau adalah lampu sinar kuning yang menemaniku minum kopi Dengarlah . . . Nanti jika aku kembali untuk menatapmu, Jangan lagi menjadi rembulan yang membuatku mencemburui para bintang

Sajak : Tak Ku Cari Surga

17 Juni 2020 Tak Ku Cari Surga Jika nanti menemukanmu oh gerangan, yang memadamkan neraka di jiwaku, Akan untukmu surga ini Surga ini adalah perasaan sayang yang abadi dan mas kawin paling murni, di mata Tuhan dan di mata jiwa. Dan . . . Jika pada 'nanti'ku yang paling terakhir/waktuku yang paling penghabisan tiba, Takkan ku cari surga di sana. Aku ingin menjadi udara. Jika neraka di sana menangkap dan membakarku, aku pun bisa tetap melayang datang, sebagai udara Sebagai udara yang menjaga napas anak cucu kita

Puisi : Neraka Dan Surgaku

17 Juni 2020 Neraka Dan Surgaku Aku adalah neraka bagi diriku sendiri Ku simpan surga bagi cinta sejati Jangan merenggut nerakaku untuk menerangi hitammu jika sendiri sering dalam ucapanmu mengikutkan namaku dengan cacian dan fitnah-fitnah kejam Dan surga di atas bumi hanyalah sebuah nuansa perasaan yang tak bisa habis karena ia benar yang sejati Dan aku pun hanya bisa mencintai gadis yang mampu memadamkan nerakaku

Prosa : Jalan Baru

16 Juni 2020 Jalan Baru Ku halau kantuk dan turun ke jalan saat fajar. Turun ke jalan menjalani kehidupan yang baru. Jalan ini pun jalan yang baru. Jalan Aksara namanya. Kemarin aku di Jalan Kata-Kata. Begitu melelahkannya rasa jiwaku menjalankan hidup di jalan itu. Aku tak hanya menulis tapi juga bersuara : mengucap dan memanggil-manggil nama-nama, berteriak, tertawa, bernyanyi, sampai memarahi diri sendiri. Tapi hal yang mengusirku dari jalan itu adalah karena aku coba menafsirkan perasaan Tuhan dengan menghayati musim-musim kehidupan. Karena hal ini aku di sangka gila bahkan dicap sesat meski sedikit juga yang menghargai kata-kataku. Senja kemarin aku terusir dari jalan itu. Tadi malam aku tak mau tidur karena tak ingin bermimpi tentang apapun lagi. Aku berjaga sepanjang malam karena memilih mempercayai logikaku dalam menghayati jalan-jalan kehidupan. Dan ku pilih jalan ini. Jalan Aksara. Agak berbeda dengan Jalan Kata-Kata dan tak terlalu membuat jiwa letih. Sebab aku ...

Puisi : Aku Butuh Menumpahkan Aksara-Aksara

16 Juni 2020 Aku Butuh Menumpahkan Aksara-Aksara Namanya sajak, yang bergetar di nadi Menggerakkan tangan, meraih dan menarikan pena Dan ku eja aksara demi askara Namanya sajak, yang mengalir di atas kertas-kertas putih ini Seperti orang dewasa yang butuh bercinta Ku tulis sajak-sajak bagi mataku dan matamu Dan meski dapat kita tahan suara, sajak-sajakku yang telah bertolak dari kalbuku, kini menggema dalam kalbumu

Sajak : Gerangan Api

16 Juni 2020 Gerangan Api Gerangan yang menyumbat aliran kata-kata ini adalah lidah-lidah api yang menumbangkan pohon dekat tebing tempat kata-kataku mesti terjun jatuh memecahkan misteri pada seonggok batu itu. Gerangan yang menyumbat kata-kata ini adalah lidah-lidah api yang melaporkan kata-kataku ke angkasa setelah menjelmakannya menjadi uap-uap. Aku hanya tak tahu kata-kata apa yang dikesumati lidah-lidah api itu. Maka aku akan Cuma pasrah pada hujan nanti yang membiakkan suara dan kata-kataku yang telah bercampur dengan perasaan langit. Dan aku telah merasa benci untuk menebak-nebak rasa air hujan.

Prosa : Titik Diam

16 Juni 2020 Titik Diam Kapan adalah kata tanya yang telah lama membingkai khayalan akan dirimu yang selalu diam dan terus bersikap aneh. Meski sudah ku katakan berkali-kali aku mencintaimu, tapi kau… kau… sikapmu membuatku bingung. Sudah berkali-kali juga ku katakan bahwa aku tak pandai membaca isyarat-isyarat, tapi… tapi… ah… ya sudahlah. Ku anggap kau tak mencintaiku. Tapi sepertinya kau mencintaiku. Ah akhirya aku membenci kata “tapi” yang senang menyalib jiwaku. Apakah karena perbedaan kita. Aku pemuda desa dan kau gadis kota. akhir-akhir ini aku berpikir bahwa alasan dari mengapa kau belum mengatakan perasaanmu atau menjawab pertanyaanku adalah mungkin karena kau sedang menunggu lampu hijau : tanda yang mempersilakan. Seperti yang kau temui di jalan-jalan kotamu. Tetapi siapa yang telah memberimu peraturan dalam hal cinta yang begitu buruk ini ? Karena aku tak melihat ada yang menangkapku setelah sudah berkali-kali menerobos lampu merah demi mengucapkan kata cinta k...

Puisi : Dari Kehilangan

16 Juni 2020 Dari Kehilangan Dari laut ke tepian Telah lepas pasang ombak dari jerat rembulan Apakah cinta mesti masih mencipta doa-doa paling egois ? : Untukku menangis dan belajar menepi Untukmu tersenyum dan lupa untuk berjalan di bawah matahari Tidurlah oh rembulan dalam biruku yang basah Biarkan ku curi selendangmu demi mataku yang telah sembab Agar kau bisa mencariku di antara kata-kata yang diucapkan bumi Lalu menangis dan belajar menghargai perasaan Tapi jangan biarkan hujanmu melupakan senja Agar kau dapat menebak-nebak warna langitnya sambal tersenyum kecil Ku harap ada seorang pria datang mempersiapkan sepasang ibu jarinya bagi pipimu yang lembab

Jika Boleh

Jika Boleh Jika matahari tiba membentangkan langit biru, Bolehkah kita menulis angin kepada taman bunga, rerumputan, dan pepohonan Jika matahari tiba, bolehkah kita bersama ? Bolehkah jika matahari tiba ?

Sajak : Kepada Teater

Kepada Teater Senja menitip isyarat padamu Siapkan lampu sinar kuning Udara dingin telah megumpulkan keheningan Ijinkan kita bergumam dalam keramaian yang sepi Teater bersandiwaralah . . . Katakan kepada gadis bernama Rembulan itu bahwa aku ingin ia tak menatapku lagi Katakan kepada pria bernama Bintang itu bahwa aku mengimpikan matahari Teater bersandiwaralah . . . Aku sedang leltih di sini dan tengah menepi dari kenyataan yang melenceng dari terkaan Teater bersandiwaralah . . .

Sajak : Ku Jelaskan Harapan

Ku Jelaskan Harapan Kepadamu bunga di taman : mesti kau peluk namaku dalam rasamu Aku akan menjadi angin yang mengebas debu di tubuhmu, setelah malam menyingkir Di bawah matahari nanti aku ingin membuka kefanaan di kembangmu, lalu menjelma udara ke angkasa menjelaskan harummu kepada langit biru bahwa kau menyelamatkan tubuhku dan karena itu aku mencintaimu Oh bunga di taman . . . mesti kau peluk namaku dalam rasamu Nanti akan ku perjuangkan surga untukmu dengan doaku