Postingan

Sajak : Reda Bulan Juli

Catatan : sajak ini dibuat dengan rasa segenap rasa dukaku hari ini atas keberpulangan Beliau. Bukan ku rayakan rasa duka ini, tapi aku ingin dunia tau bahwa aku berduka atas kepergian Bapak Sapardi. Aku berduka dalam sajak ini. Untuk idolaku Pak Sapardi Djoko Hujan bulan juni mencipta reda bulan juli. Dan kau pelangi, raib dengan lembut dalam panggilan cahaya. Rindang sajakmu pada lara yang memayungi asa Kalimat-kalimat kami masihlah udara panas yang rindu menemui mata hatimu, Atau senang sekedar berandai kau memahami wangi sajak-sajak siang. Tapi reda bulan juli mengheningkan segala cipta, merenungkan segala kata. Dan dikau ku yakini ada dalam hening di antara butir cahaya angkasa itu. Ku sebut itu surga di depan lilin hati.

Sajak : Di Ruang Kata

Sunyi itu hendak menggapai suara Tapi penulis itu seorang pembenci suara Sunyi itu hendak menggapai kata Tapi tinta penanya habis setelah menempuh jalan-jalan jauh Rupanya itu hanya peristiwa kecil tentang sang penulis yang berhasil pensiun di ujung penanya sendiri

Sajak : Dalam Sinar Surya

Dua masa berlalu : Hujan yang menghening menjadi reda Reda yang membuka cahaya di langit Dan pelangi berlalu terhapus waktu

Sajak : Tentang Pelangi

Diantara hujan dan cerah, Pada reda, Pelangi mekar di ujung tanduk memanggil bidadari Sayap dan selendang udara pada bidadari Para penopang tanduk medoakan mendung Bidadari yang tak tiba, menyulam matahari Pelangi raib ditatap cahaya

Sajak : Terbias Pelangi

Pemimpi itu berbicara dengan nada puisi Pengamen itu terus memainkan gitarnya di atas batu ujung ombak Pelukis itu tersenyum pada reranting pepohonan rindang yang bergoyang Penari itu berpikir keras terhadap aturan-aturan Pria itu sibuk menebak titik tumpu pelangi itu

Sajak : Setitik Embun

Embun itu terpeleset dari daun talas Berbaur dalam aliran sungai menuju samudera Sahajanya lautan hanya biru dan putih buih Semuanya sama Embun itu menjadi entah di sana Embun itu menjadi tanda tanya

Sajak : Ku Ingin Kau Berarti Untukku

Apakah kau membaca namaku ? Dalam surat bernada jujur yang kau sebut romantis itu. Apakah kau sempat menghayati kata-kata itu ? Dalam bait-bait yang sejatinya hanya mengulang sebuah rasa saja. Apakah kau ? Membaca dan menghayatinya ? Sesungguhnya aku hanya ingin memperkenalkan diriku seutuhnya padamu semata.

Sajak : Dari Sanubari Cakrawala Terjauh

Di terbangkan angin kehadapanku  Kembang bougenville lusuh nan dekil. Kemarin malam, hujan turun di halaman itu hendak menghentikan laju angin yang menggenggam kembang ini Tak ada yang mampu menahan angin Dan Kembang ini, surat dari kejauhan. Berisi rasa rindu dan sebuah harapan